Thursday, 9 March 2017

Edinburgh, I am turning 30!

Bermula dari ayah yang ngajak jalan-jalan ke UK bersama teman-temannya. Lalu pas daftar visa, malah visa ayah ditolak karena beberapa dokumen tidak menguatkan ayah akan keluar dari UK. Jadi mau tidak mau harus beli tiket PP, jadi sekalian deh ayah ngajak ulang tahunan ku di Edinburgh. Kenapa Edinburgh? Karena itu satu-satunya kota yang ada tiket Ryan air baik dari Charleroi maupun dari Copenhagen. Jadi kita bisa ketemuan di sana.

Ketemuan di Edinburgh. Bayangannya sih romantis, lancar. Tapi sudah hidup di era mbah google aja masih bisa salah paham gara2 mbah google nunjukin arah yang salah. (sudahlah.. tidak perlu dibahas di sini...kasihan starbucks mbah google suami saya) Singkat cerita, kita ketemu setelah lebih dari setengah jam cari-cari, makan biar gak terlalu bete, dan cek in ke airbnb yang udah kita pesen.

How do you like Edinburgh?

Dari bandara, ada shuttle bus yang berangkat setiap 10 menit sekali. Jadi tidak perlu takut ketinggalan. Antara bandara dan pusat kota hanya terpaut 40 menit saja dengan bus. Kami sendiri memilih tinggal di Leith, kecamatan di sebelah utara Edinburgh, sekitar 20 menit dengan bus.

Yang menarik, begitu turun di bandara, ada fasilitas prayer room yang mumpuni di dekat halte shuttle bus. Chakep. Edinburgh got my attention the first sight.

Dan Edinburgh terus memikat saya karena ternyata Edinburgh itu cantik banget loh.. Serius banget.. berasa jadi putri raja.. banyak kastil-kastil tua. Atau berasa di film Harry potter.. Banyak orang inggrisnya... (hehehehe...). Topografi Edinburgh yang berbukit-bukit menambah kecantikan kota ini. Selama perjalanan dari bandara, saya menikmati pemandangan cafe-cafe teh bergaya klasik khas orang Inggris.

Kota ini sebenernya tidak terlalu besar. Dibagi menjadi dua bagian, kota tua dan kota baru. Seperti namanya, di kota tua banyak terdapat bangunan-bangunan yang menjadi objek wisata. Sedang di kota baru, banyak cafe dan pusat perbelanjaan. Kedua kota ini dipisahkan oleh stasiun utama.

Yang membuat kota ini khas antara lain:

  1. Bis tingkat. Layaknya transportasi di UK, bis tingkat adalah sarana transportasi yang paling umum. Namun bis tingkat ini menjadi spesial karena hanya banyak ditemui di UK. Tidak di negara Eropa daratan atau utara. 
  2. Wifi dimana-mana. Bahkan lebih banyak daripada di Denmark. Tidak hanya ada di transportasi umum, cafe, hotel, airbnb, perpus, namun juga di jalan-jalan di kota! Bayangpun! orang udah gak butuh langganan internet dari provider sim HP begini caranya. 
  3. Setiap perempatan besar di New Town, ada penunggunya berupa patung besar di tengah perempatan. Terlihat sekali bahwa New town ini menggunakan sistem perencanaan kota yang modern. Semua serba sistematis, kotak-kotak. 
  4. Domba dan wool. Budaya makan orang sini sejak dulu kala adalah mengonsumsi domba. Mereka banyak mengembangbiakkan domba untuk produksi wool. Karena di Scotland ini dingin, mereka butuh produksi bulu domba untuk menghangatkan tubuh mereka. Bulu domba untuk pakaian mereka, maka mereka juga memanfaatkan dagingnya, sehingga makanan tradisionalnya berasal dari olahan domba. Yang terkenal adalah Haggis. Ceritanya, jaman dulu orang miskin gak punya makanan, jadi mereka mengolah jeroan domba menjadi makanan tradisional mereka dan dinamakan Haggis. Kami tidak sempat makan itu di sana, padahal sudah kami rencanakan. Kalau mau beli wool, disini tempatnya.
  5. Corak Scottish yang kotak-kotak. 
  6. Dari ceritanya Richard--tempat airbnb kami, UK ini sangat multikultural. Terlihat juga sih di jalan-jalan. Hal ini karena UK banyak mengkoloni banyak negara. Jadi sejak jaman dulu kala mereka sudah menerima orang luar untuk bekerja di UK, membangun UK. Oleh karena itu, di jalan banyak sekali restaurant India, Cina, Afrika, dll. 
Ketika jalan-jalan, tepat ketika jam makan siang, kami tidak sengaja tiba di kawasan yang banyak makanan halalnya. Kami memutuskan untuk makan siang di salah satu restaurant dan memesan kari domba. Ternyata, restaurant itu tepat berada di belakang masjid besar. Kami pun mampir untuk solat. Senangnya melihat masjid besar di kota ini. Di dalam masjid, saya sempat ngobrol dengan salah satu wanita dari Iran yang sudah lama tinggal di UK (sebelumnya dia tinggal di London, dan baru setahun terakhir pindah ke Edinburgh). Dia menjelaskan bahwa di Edinburgh sendiri ada 3 masjid besar. Dua beraliran sunni, dan satu beraliran syiah, dan ini adalah yang terbesar, beraliran sunni. Tapi kami sepakat untuk tidak membeda-bedakan sunni dan syiah selama kami tetap beribadah kepada Allah YME. Selesai solat, kami keluar dan menemui fakta lain bahwa ternyata masjid ini tepat berada di seberang University of Edinburgh. (jurusannya lupa.. harus cek foto di kamera). Ih, chakep banget kalau kuliah di sini, yang harus solat jumat gak perlu repot dan bingung.

In general, enjoying Edinburgh is like walking around Harry Potter book. 

Ulang tahun

Aku seneng banget bisa ulang tahunan di sini. Di kota yang indah, sama suami pula. Terimakasih ayah. Semoga adek menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana ya.. Terimakasih sudah mendampingi adek selama hampir 12 tahun. Semoga kita bisa terus bersama menikmati kehidupan kita di masa yang akan datang hingga di dunia yang akan datang ya..

Sebuah perenungan

Aku jadi berpikir, berdasar fakta kecil bahwa orang inggris memiliki budaya makan domba, lalu sejak kapan manusia makan babi ya? Atau lebih tepatnya sejak kapan manusia mulai mengembangbiakkan dan mengonsumsi babi. Bukannya orang kristen dan katolik dulu juga mengharamkan babi? bukannya orang Yahudi juga? Lalu apa anehnya kalau orang Islam tetap bertahan untuk tidak makan babi? Bukannya yang aneh itu yang makan babi? Kenapa makan babi? hmm...